Senin, 17 Oktober 2011

Membuat Catatan Bukan Mencatat


  Ada berbagai cara untuk mendapatkan informasi mulai dari melihat, mendengarkan atau mungkin menggabungkannya sekaligus. Ketika belajar guru menyampaikan banyak sekali informasi dan dengan mencatat adalah salah satu cara untuk mengingat informasi tersebut. Jika diibaratkan, catatan adalah investasi bagi kita itu artinya catatan sangat penting. Untuk membuat catatan yang baik tentunya ada teknik khusus dalam membuatnya, bukan hanya sembarang catatan melainkan sebuah catatan yang lebih bermakna dan tak terlupakan. Sekarang coba bayangkan, sebuah catatan kita buat agar isi dari catatan tersebut dapat kita ingat terutama catatan pelajaran yang suatu saat akan kita catat kembali informasi tersebut pada saat ujian. Ada dua teknik dasar yang harus kita gunakan dalam membuat sebuah catatan. Yang pertama, kita harus bisa menghubungkan informasi baru dengan sesuatu yang sudah kita ketahui sebelumnya. Contohnya jika saat itu kita belajar materi sejarah tentang kerajaan hindu Buddha di SMA, dan kebetulan itu adalah lanjutan dari materi yang kita pelajari ketika di SD, maka pada saat itu juga kita harus bisa menghubungkannya dengan materi yang sama pada saat kita mempelajarinya di SD. Yang kedua, ketika guru menjelaskan dan kita membuat catatan pada waktu yang bersamaan pahami setiap informasi yang diberikan oleh guru dan menjadikannya tak terlupakan, dalam artian ingat materi tersebut dengan baik. Saat ini kita sebagai pelajar sekaligus generasi muda dituntut untuk memiliki keterampilan dan pengetahuan yang luas untuk belajar lebih banyak, menjadi lebih maju dan melakukan banyak hal-hal positif. Kita juga harus bisa mengendalikan perasaan, pikiran dan pelajaran.
Untuk membuat catatan ada beberapa cara yang bisa digunakan. Yang pertama adalah catat, yakni dimana kita menuliskan informasi yang ingin kita ingat. Untuk cara pertama kita sebut “C”. Cara yang kedua adalah membuat catatan, dalam hal ini kita menuliskan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan kita saat itu. Untuk cara kedua kita sebut “B”. Cara yang ketiga kita sebut sebagai “CB”. Dalam hal ini kita akan menghubungkan antara catat dan membuat catatan. Di sinilah kita memfokuskan diri pada informasi yang diterima dan menghubungkannya dengan informasi sebelumnya sehingga menjadikan catatan tersebut lebih bermakna. Jadi,C untuk Catat, B untuk Membuat Catatan, dan CB untuk catat dan membuat catatan. Cara mana yang akan Sobat pilih?
Kedengarannya memang sulit untuk fokus dalam melakukan dua hal sekaligus. Untuk fokus terhadap satu hal saja pikiran kita terkadang melantur kemana-mana meski telah berusaha fokus. Salah satu contohnya adalah ketika kita mencoba memperhatikan guru dan fokus dengan apa yang disampaikannya tetapi selalu saja ada hal yang mengacaukan konsentrasi kita yang dengan susah payah telah kita bangun. Belum lagi godaan dari teman-teman yang mengajak bercanda dan mengobrol ketika berada di dalm kelas. Tenang Sobat, ada sebuah penelitian yang akan membuat kita tidak akan menganggap hal tersebut sulit lagi. Otak kita mampu memproses informasi lebih cepat daripada kecepatan suara kita. Bahkan, rata-rata kecepatan bicara orang normal tak bisa mengikuti kecepatan prosesor otak kita. Rata-rata kecepatan berbicara manusia adalah 200-300 kata per menit. Sedangkan otak kita memproses apa yang kita dengar dengan kecepatan 600-800 kata per menit. Dampak dari waktu jeda ini, serta kemampuan otak kita untuk membuat hubungan tadi dapat kita isi dengan pikiran kita sendiri. Jadi dengan mengunakan sistem CB akan membantu kita mengubah pikiran kita yang awalnya tidak fokus menjadi bermanfaat bagi pembelajaran yang bermakna. Dengan menuliskan informasi yang baru saja kita dapat dan menggabungkannya dengan pendapat dan pemikiran kita sendiri tentang pelajaran tersebut, kita telah membuat alam sadar dan alam bawah sadar kita tetap fokus dengan apa yang sedang kita lakukan. Coba praktikkan hal tersebut saat berada dalam kelas.
Oh iya Sobat, kira-kira catatan Sobat seperti apa? Rapi, terstruktur, penuh warna dari tinta pena yang digunakan atau catatan yang  berantakan? Bagaimanapun bentuk catatan Sobat, yang terpenting adalah ketika Sobat membuka catatan itu kembali Sobat bisa mengingat dengan baik semua yang telah dibuat dalam catatan tersebut dan menjadikannya bermakna. Ada beberapa langkah-langkah yang bisa kita coba untuk membuat catatan lebih menyenangkan. Pertama, buat garis vertikal yang membagi kertas menjadi dua kolom. Pada kolom sebelah kiri digunakan untuk mencatat poin penting dan fakta yang kita dapatkan. Sedangkan pada kolom sebelah kanan untuk mencatat apa pun yang kita inginkan. Maksudnya disini adalah kita bisa menuliskan tentang perasaan dan pikiran kita saat itu dengan simbol-simbol atau mungkin smiley dengan menggunakan pena berbagai warna. Kita juga bisa membuat daftar pertanyaan yang akan kita tanyakan mengenai materi yang disampaikan oleh guru. Semua yang kita tulis pada kolom kedua bertujuan untuk menggabungkan alam bawah sadar kita dengan informasi yang didapat. Hal tersebut akan membuat informasi jadi lebih hidup dan mudah diingat. Yang kedua adalah gunakan pena dengan warna yang berbeda setiap kali guru atau pembicara berganti topik. Sebuah sumber mengatakan bahwa penggunaan banyak warna pada catatan akan membantu kita mengingatnya dengan lebih mudah.
Setelah membagi catatan seperti tadi, yang selanjutnya kita buat adalah peta pikiran. Cara membuatnya cukup mudah. Sobat ASIK bisa memulainya dengan menuliskan sebuah kata. Misalnya Sobat ASIK menuliskan kata Cristiano Ronaldo, lalu buat tanda panah keluar dari tulisan tersebut lalu tuliskan kata-kata yang berhubungan dengan Christiano Ronaldo seperti kata CR7, Sepakbola, Real Madrid dan lain-lain. Dengan membuat peta pikiran, kita akan lebih mudah mengingat catatan dalam pikiran kita ketika kita mencoba menuliskan kembali catatan tersebut saat ujian.
Kesimpulannya adalah untuk membuat sebuah catatan yang bermakna, selalu gunakan sistem CB, yakni membuat catatan dengan menggabungkan apa yang kita dapatkan dan kita dengarkan dengan perasaan dan emosi kita saat itu. Sehingga kita mampu menggabungkan alam bawah sadar kita dengan alam sadar kita untuk membuat sebuah catatan lebih bermakna dan mudah diingat.(r3c!L@).
Sumber: Buku Quantum Note-Taker, Bobbi DePorter.

Senin, 03 Oktober 2011

Cerpenku ~~

Safira Eadrom
Batu Safir Yang Berkilau
Oleh ResdaCintami Laksana*

            Azan subuh yang menggema telah membangunkan seorang wanita muda yang hampir mencapai kesempurnaan dalam hidupnya. Paras cantik, anggun, cerdas, arif, berbakat dan seorang muslimah yang luar biasa dibidangnya.
“Safira, hari ini kamu masih bekerja?”
“iya tante, hari ini sedang ada rapat di kantor untuk menyusun program baru bagi para nasabah”. Ucap Safira yang tengah bercermin merapikan kerudung birunya.
“Fira, hari ini Bunda dan Ayah akan pulang dari Kanada untuk mempersiapkan pernikahanmu”
“tenang saja tante Elin sayang, keponakan tante yang cantik ini akan pulang lebih awal”. “Baiklah kalau memang seperti itu keponakan tante yang cantik, hati-hati di jalan ya”.
“Assalamualaikum, Fira berangkat dulu tante, da..tante”.
Safira berangkat menuju sebuah bank syariah tempat ia bekerja. Setibanya disana Fira menerima sebuah pesan dari Fikri di telepon genggamnya yang mengatakan bahwa hari ini Fira akan menemui ibunda Fikri yang tak lain adalah calon mertua Fira. Karena terburu-buru menuju ruang rapat, Safira langsung membalas pesan tersebut dan mengatakan bahwa ia akan tiba di rumah Fikri pukul 7 malam.
            Pukul 13.50 Safira langsung menuju Bandara untuk menjemput orang tuanya yang telah kembali ke tanah air. Setelah bertemu dengan kedua orangtuanya Safira langsung mencium kedua tangan mereka dan memeluk mereka untuk melepas rasa rindu.
“Bunda, Ayah, Fira kangen..nian samo Bunda samo Ayah”.
Fira memeluk Ayah dengan sangat erat.
“iya sayang, tenanglah ayah dan bunda ada disini”.
“sombong nian Ayah samo Bunda ni, mentang-mentang lamo di Kanada dak galak nian ngomong baso Plembang lagi, jangan-jangan la lupo”.
“Hahaha.. idak nak, kami masih inget. Kalo Bunda dak mungkin lupo, tapi kalo Ayah bunda dak tau”. Bunda mencoba menyindir Ayah.
“Payo kalo mak itu, apo kabar tante Elin sayang?”
Mereka asik mengobrol sepanjang jalan menuju rumah tante Elin dan Fira.
Setelah melaksanakan shalat maghrib berjamaah, Bunda Fira menelpon keluarga Fikri untuk memohon maaf atas ketidakhadiran Fira pada malam itu, dan acara pertemuan Fira dengan Ibunda Fikri akan dilakukan keesokan harinya. Selain itu, Fira juga akan didampingi oleh orangtuanya untuk bersilaturahmi dengan keluarga Fikri.
            Keesokan harinya kedua keluarga tersebut telah  bertemu untuk mempersiapkan pernikahan Fira dan Fikri.
“Bu Syifa, pada kesempatan ini Fira akan menceritakan keadaan keluarganya yang sebenarnya, hal ini sangat penting untuk keluarga besar ibu Syifa dan tentunya untuk Fikri”. Tutur Bunda Fira dengan tatapan cemas menatap kedua mata Fira yang teduh. Fikri hanya tertunduk dengan sorot mata yang seolah mengatakan bahwa ia tau apa yang akan diceritakan Fira.
“maksud ibu? keadaan seperti apa?” Bu Syifa terkejut atas ucapan Bunda Fira.
“Ceritakanlah sayang”
Ayah Fira tersenyum menatap putrinya yang terlihat anggun dalam balutan busana muslimah hijau pupus bermotif daun mapel yang kekuningan.
“Fira langsung saja kalau begitu, sebenarnya Fira bukanlah anak kandung dari Ayah dan Bunda Fira yang saat ini sedang ada dihadapan Bu Syifa dan Fikri. Mereka adalah orang-orang yang sangat baik hati dan dengan sangat ikhlas merawat dan membesarkan Fira sampai saat ini”.
Fira tersenyum bangga kepada orang tua angkatnya. Bu Syifa menatap Fira dengan heran, seakan tidak percaya akan cerita Fira.
“Tante Arelina yang selama ini tinggal bersama Fira adalah adik dari ibu kandung Fira. Dari tante Elin lah Fira tau bagaimana keadaan keluarga Fira yang sebenarnya. Fira adalah anak hasil hubungan di luar nikah. Saat itu ibu Fira masih berstatus sebagai pelajar dan akhirnya harus berhenti sekolah karena hal itu. Keluarga Fira berencana ingin segera menikahkan mereka sebelum perut ibu membesar. Akan tetapi, sejak awal nenek tidak merestui hubungan Ayah dan Ibu Fira karena berbeda keyakinan dan etnis. Ayah Fira adalah penganut agama Kong Hu Chu dan keturunan Korea. Maka, pernikahan tersebut dibatalkan. Namun akhirnya mereka tetap menikah meski tanpa restu dari orang tua mereka. Rumah tangga mereka sangat buruk sejak awal karena faktor ekonomi. Sampai akhirnya Fira lahir dan Ayah pergi meninggalkan kami berdua karena tidak sanggup membiayai kehidupan kami. Tidak hanya itu, ternyata Ayah kembali bercinta dengan perempuan lain di luar sana. Dia sangat tega meninggalkan Fira dan Ibu yang saat itu sedang sakit parah”.
Fira menghentikan ceritanya sejenak dan meneguk secangkir teh hijau yang disediakan keluarga Fikri untuk menenangkan dirinya yang tengah menceritakan kembali lembaran hitam dalam hidupnya.
“Baiklah, Fira lanjutkan. Saat Fira berusia kurang lebih sekitar tiga tahun, ibu meninggal dunia. Lalu, Fira diserahkan kepada nenek agar ada yang bisa merawat Fira . Namun, nenek menolak karena sejak awal sudah menganggap bahwa ibu Fira bukan anaknya lagi dan tentu saja Fira tidak diakui sebagai cucunya. Nenek hanya menganggap Fira sebagai anak hasil hubungan gelap yang ditinggal mati oleh ibunya dan Ayah yang tidak bertanggung jawab”.
Fira kembali berhenti bercerita karena melihat Bu Syifa yang telah berlinang air mata. Fikri menggenggam tangan ibunya dan mencoba untuk menenangkannya meskipun Fikri sendiri tampak gugup mendengar cerita Fira dengan mata yang berkaca-kaca. Dari kejadian ini tampak bahwa Fikri adalah seorang lelaki yang halus perasaannya.
“Lalu, bagaimana kau bisa bertemu dengan kedua orang tua angkatmu ini nak?”
“saat itu tante Elin hampir menyelesaikan kuliahnya dan mengontrak di sebuah rumah yang tidak jauh dari sebuah panti asuhan. Selama 2 tahun tante Elin merawat Fira seperti anaknya sendiri. Tante Elin membiayai hidup kami dari hasil bekerja sebagai penjaga toko buku di kampusnya. Saat Fira berusia 5 tahun, Fira diadopsi oleh orang tua angkat Fira ini dan pindah ke kota Palembang sampai saat ini. Semua identitas Fira diubah sejak diadopsi. Setelah menyelesaikan kuliahnya tante Elin menyusul keluarga Fira ke Palembang dan membuka bisnis souvenir. Saat ini yang Fira punya hanya orang tua angkat Fira ini dan tante Elin”.
Fira mengakhiri ceritanya dengan senyum manisnya yang khas. Senyum Fira seolah berkata bahwa dirinya sangat tegar dan menerima dengan ikhlas segala sesuatunya.
Bu Syifa mengelus dadanya dan menarik nafas yang dalam setelah mendengar cerita Fira.
Fikri pun tersenyum kepada Fira. Di tengah suasana haru tersebut tampak seorang lelaki paruh baya dari ras mongoloid, berambut hitam pekat dengan beberapa rambut putih diantara rambut hitamya. Dari sorot matanya terlihat bahwa lelaki paruh baya itu cukup ramah. Lelaki itu membawa sebuah bungkusan dan mengetuk pintu rumah keluarga Fikri.
“permisi Bu Syifa, maaf jika kedatangan saya mengganggu, ini ada makanan”.
“wah, ini dimsum kesukaan saya”.
Fikri tersenyum dan berjalan mendekati tetangganya itu.
“iya Fik, tadi tante Aling bilang dimsum ini spesial untuk kamu”.
“gamsahamnida ajosi buat bakpao dan dimsumnya”. Seru Fikri yang bergaya berbahasa Korea di depan Fira agar menarik perhatian Fira. Tapi Fira tidak memberi respon.
“sampaikan salamku untuk Aling, terima kasih ya”. Sahut Bu Syifa dari sofa beludru miliknya tempat ia duduk bersama keluarga Fira.
Lelaki itu adalah tetangga Fikri yang cukup dekat dengan keluarganya dan selalu membantu Bu Syifa jika Fikri sedang pergi keluar kota. Sejak kepergian Ayah Fikri empat tahun lalu, Bu Syifa tinggal seorang diri di rumahnya jika Fikri sedang pergi keluar kota.
            Di kamar tante Elin, Fira terlibat perbincangan serius.
“tante, sebentar lagi Fira akan menikah dengan Fikri, dan Ayah Fira entah dimana. Rasanya Fira ingin sekali menemuinya untuk memohon doa Restunya”. Tutur Fira kepada tantenya sambil memperhatikan seorang gadis kecil yang sedang bermain dan terlarut dalam canda tawa bersama Ayahnya dari jendela kamar tante Elin.
“kau adalah seorang muslimah yang paham akan islam. Tentunya kau tau apa yang harus kau lakukan”. Tante Elin berjalan mendekati Fira dan memandang keluar jendela. Tante Elin menghela nafas dan melanjutkan perkataannya.
“Dia memiliki nama korea Dong Hyu Daen. Dia itu tak lebih dari seorang yang tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Hari ini tante ingatkan kau kembali, Ibu kandungmu, kakak perempuan tante telah dinodai lelaki itu sejak remaja. Mulutnya berkata begitu manis, seakan siap menerima segala resikonya. Tapi pada kenyataannya, dia meninggalkanmu seperti sampah !”. tante Elin meninggikan suaranya dan berlinang air mata. Fira tertunduk terdiam menahan tangis.
“itulah kenyataannya sayang, dia hampir membuatmu hidup seorang diri di dunia ini. Entahlah, kau perlu restunya atau tidak. Tak perlulah kau pusingkan dia, dia juga tidak akan peduli kita. Mungkin saja dia sudah mati saat ini”.
Terdengar azan ashar dari kejauhan.
“segera berwudhu dan tenangkan dirimu”.
Tante Elin tersenyum hambar dan pergi meninggalkan Fira.
            Pagi-pagi sekali, Fira terbangun dan terdengar suara tante Elin, Ayah dan Bunda Fira yang tengah berbincang sambil bersenda gerau. Fira segera menuju dapur tempat para anggota keluarga berkumpul.

“selamat pagi permaisuri ku”.
Ucap Fikri sambil membawa sepiring pancake madu saus alpukat dan segelas susu vanila. Fikri tersenyum dan bersikap layaknya seorang pelayan istana yang membawakan hidangan istimewa bagi Ratunya. Ternyata sejak tadi Fikri telah terlibat perbincangan seru dengan para anggota keluarga.
“ tuan putri, ini adalah masakan spesial untuk sarapan dari dua orang chef kami yang didatangkan langsung dari Kanada. Tidak hanya itu, ruang makan ini ditata dengan sentuhan khas kota Palembang oleh Nona Arelina. Dan yang terakhir, saya sendiri adalah Fikri Alfaridzi seorang pelayan pribadi tuan putri Safira yang menyajikan makanan ini dengan penuh cinta hanya untuk putri Safira yang cantik jelita ini”. Semua anggota keluarga tertawa melihat tingkah Fikri yang mencoba merayu Fira.
“ hmm..pancake madu saus alpukat, dan susu vanilla pasti ini masakan bunda”.
Fira mencicipi sarapannya dari nampan yang dipegang oleh Fikri. Fira bertingkah layaknya gadis kecil berusia Sembilan tahun dan memeluk bundanya.
“oh indahnya dunia jika setiap hari seperti ini, setiap pagi Fira makan pancake masakan bunda, dibikinin susu sama tante Elin, terus bisa merawat tanaman bareng Ayah”.
“hmm..maunya”. Sahut tante Elin kepada Fira.
“ah tante, kapan lagi coba kayak gini hehehe”.
“ehem..ehem halo, apa kabar pelayan istana tuan putri?”
“iya, iya sayang, jangan langsung ngambek gitu dong”.
“ayo, Fira cepat habiskan sarapannya, hari ini Fikri mau mengajak kamu ke rumahnya, bukan begitu Fikri?”.
Sahut Ayah Fira sambil menikmati secangkir kopi luwaknya.
“iya Fira, hari ini ibu mau mengundang makan siang di rumah”.
            Setelah makan Fira pergi bersama Fikri. Namun saat di perjalanan telepon Fikri berbunyi.
“Halo bu, ada apa?”. Fikri mengangkat telepon dari ibunya.
“iya bu, Fikri sedang dalam perjalanan bersama Fira sebentar lagi Fikri sampai di rumah”.
“kenapa ibu telepon?” Tanya Fira.
“ibu bilang ada tetangga yang mendapat musibah”
Setiba mereka di rumah Fikri, ibu Fikri segera memberitahu mereka. Ternyata tetangga mereka meninggal dunia dan mereka segera menuju rumah duka.
“kalau Fira tidak salah, beliau adalah orang yang kemarin memberi bakpao dan dimsum saat aku sedang ada di rumah kan?” Fira berbisik kepada Fikri.
“iya Fir, ini adalah suami tante Aling. Itu tante Aling, tampaknya ia sangat terpukul atas kepergian suaminya. Mereka berdua ini baik Fir sama keluarga aku, mereka selalu membantu Ibu”.
“semoga amal ibadahnya di terima Tuhan”. Ucap Fira mendoakan almarhum.
Mereka berada di sana sampai jenazah suami Aling dimakamkan. Suasana pemakaman begitu kental dengan budaya tionghoa dan aroma hio bertebaran dari tungku-tungku kecil tempat keluarga Aling berdoa. Saat di pemakaman barulah Fira mengetahui siapa sebenarnya suami Aling. Tertulis jelas di batu nisan sebuah nama yang membuat Fira lemah tak kuasa menahan emosi yang berkecamuk hebat dalam dirinya. Hari itu selasa 22 Oktober 2002 Safira Eadrom terduduk lemas di samping makam, dan ikut terlarut dalam kesedihan yang luar biasa. Tertulis jelas di batu nisan. Nama itu adalah Dong Hyu Daen.







*Penulis adalah siswi kelas X.1 di SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III.